Penemuan terbaru. Ini dia yang bikin Anda tetap awet muda

Seiring berjalannya waktu. Anda pasti akan semakin tua. Kulit anda perlahan semakin keriput. Dan bagaimana pun usahanya anda tidak bisa melawan tua. Karena menjadi tua itu sudah pasti. Tapi kalau kita amati pada sebagian orang, ada yang tetap terlihat muda meskipun umurnya sudah tua. Namun ada pula yang sebaliknya, terlihat tua meskipun umurnya masih muda.

Nah kali ini aku bakal berbagi pengalaman dimana ini dapat kamu tiru agar kamu dikira masih muda pada usia mungkin sudah sepertiga abad.

Seperti tidak terasa dan tak pernah ku hiraukan. Aku sadah mulai menginjak semester akhir yang sebentar lagi bakal disibukkan dengan tugas akhir. Pastinya sudah tua ya.

Pagi itu, aku hendak pergi ke kampus dengan berjalan kaki. Di perjalanan aku melewati kerumunan orang dan kudengar salah satu diantara mereka berkata: “Ini pasti maba” ucapnya sambil memandangiku. Aku pun berlalu dari mereka.

Di lain waktu dalam kondisi yang sama aku hendak ke kampus dengan berjalan kaki pula. Di perjalanan aku bertemu dengan seseorang yang SKSD(Sok Kenal Sok Dekat), dia punya menyapaku sambil melempar senyum ala kadarnya. “Kok jalan kaki dek, masih maba ya?” “Iya..” Jawabku spontan dan singkat sambil membalas senyum dengan seramah mungkin. Karena waktu itu aku terburu-buru jadi ku jawab saja “iya” untuk menghindari percakapan yang panjang. Loh kok aku jawab iya ya? Padahal aku kan udah semester tinggi. Pikirku.

Di lain waktu pula, seperti biasa selesai kuliah aku bergegas menuju masjid untuk shalat dzhuhur. Karena waktu sudah menunjukkan hampir memasuki waktu dzhuhur. Rupanya di tengah perjalanan aku di hadang oleh seorang setengah tua. Dia pun memberikan aku selembar kertas entah apa tulisannya. Dia pun bertanya: “Maba ya dek?”. “Maaf pak bukan” Jawabku singkat sambil melempar senyum ala kadarnya. Orang tadi pun menarik kertasnya dan pergi.

Sesampainya di masjid, bayangan kejadian tadi tetap muncul di permukaan pikiranku. Sambil dihibung-hubungkan dengan kejadian senada sebelumnya loh kok bisa aku dikira maba. Padalah aku sudah jenggotan begini. Apa tampangku seperti maba, atau apa?

Habis shalat dzuhur capcus deh pulang maklum kan aku mahasiswa kupu-kupu. Sambil berjalan kaki pandanganku tertuju pada beberapa orang yang juga berjalan kaki. Hari itu adalah hari dimana para mahasiswa baru melakukan daftar ulang di kampusku. Ah rupanya ini yang bikin aku dikira maba. Jalan kaki ini ternyata bikin aku tetap terlihat seperti maba meskipun kenyataannya sudah semerster tinggi.

Berarti jalan kaki itu bikin kita awet muda yak? Nah makanya sesekali cobalah jalan kaki, biar tetap terlihat muda. Sekian itu aja dari aje. Mator thanksyu…

Jangan gegabah, ini dia untungnya kalau semua medsos benar-benar ditutup kemkominfo

Ciee ciee, akhirnya lu mampir juga di blog gw. Udah lama juga gw gak posting apapun di blog ini. Maklum semester tinggi mak udah mulai sok sibuk gitu. Hihi.. 

Denger-denger nih kementrian kominfo ancam bakal tutup semua medsos. Soalnya media sosial itu digunakan buat nyebarin paham radikal gitu. Katanya sih. Tapi, tenang aja, jangan terburu-buru protes dan ngebully pak menteri dulu gan. Gua tau kok lu pada gak sanggup hidup tanpa medsos. Tapi gw bukan ngedukung pak menteri loh ya..

Media sosial Via komunitas bukalapak

Gua cuma mikir aja gimana seandainya pemerintah bener-bener bakal blokir semua medsos. Yah gak bisa pesbukan lagi donk, gak bisa narsis lagi di instagram, gak bisa buka WA, gak bisa ngetwit lagi dan gak bisa gak bisa gak bisa deh pokoknya..

Eiitts.. tunggu dulu, bakal ada untungnya juga kok kalau dipikir-pikir secara bijaksana sih hihi walau tidak sebijak Mario Rapuh..

Seperti kita ketahui bahwa media sosial itu…… ah kayaknya terlalu banyak basa basi deh.. langsung aja deh cekidooooouut apa aja keuntungannya kalau pemerintah jadi tutup semua medsos versi gua. Iyalah kan gw juga punya hak menyatakan pendapat. Itu hak konstitusional kan?? Iyakan iyakaaan???

1. Lu bakal hemat kuota 

Hemat kuota via https://www.asamsul.com/wp-content/uploads/2017/07/Hemat-Kuota.jpg

Buat kamu yang sering kewalahan kecapean karena kuota cepet habis. Nah, ini terobosan baru(ih terobosan baru). Karena udah gak bisa buka media sosial, ya kamu gunain kuota cuma buat browsing doank. Biarin aja, biar bangkrut tuh provider yang suka jual paket internet mahal. Yang itu tuh, itu deh pokonya si jago merah(keceplosan). Aduh jangan kesinggung ya, gw cuma nyindir aja siapa tau nanti dikasih promo paket internet murah. Hihi(ngarep)..

2. Lu bakal tambah serius belajar 

Fokus belajar vroh via https://i0.wp.com/pelatihindonesia.com/wp-content/uploads/2016/12/belajar.jpg

Kalau biasanya lu belajar, sambil pesbukan. Cari wifi niatnya ngerjain tugas malah buka yutub. Sekarang gak lagi deh. Lu bakan tambah fokus cari-cari referensi online, jurnal, berita, artikel dan lainnya.

3. Lu bakal tambah produktif 

Yuk produktif via https://www.asamsul.com/wp-content/uploads/2017/07/headerproduktif-1.jpg

Karena gak bisa buka media sosial lagi. Lu bakal nganggur. Akhirnya lu bakal coba bikin website dan blog. Lu bakal ungkapin keluh kesahmu di sana. Lu bakal lebih rajin nulis artikel panjang, daripada sekedar curhat sekata dua kata di pesbuk dan twitter ataupun pamer-pamer dikit melalui status WA.

4. Lu bakal tambah hemat tambah kaya 

Uy mau kaya ngga? Via https://www.asamsul.com/wp-content/uploads/2017/07/rich.jpg

Kalau biasanya sebulan lu ngabisin uang 70rebo buat beli paketan. Nah, paling kalau semua medsos diblokir lu cuma bakal ngabisin 20rb doank itu cukup bulat beli paket internet pas buat sekedar browsing. Disamping itu lu bakal berusaha bangun situs jual beli online. Jadi pengusaha kaya. Lu bakal terkenal seantero nusantara. Kerren gak?

5. Lu bakal selalu ada waktu buat orang-orang di dekatmu 

Indahnya via https://www.asamsul.com/wp-content/uploads/2017/07/Tips-Liburan-Bersama-Keluarga-di-Pantai.jpg

Bakal gak ada lagi istilah generasi menunduk. Buyar sirna. Semua orang bakal tertawa lepas di dunia nyata bareng temen-temennya. Kehidupan keluarga makin harmonis.

6. Lu aman dari berita hoax 

Via detik.com

Tentu lu harus milih situs mana saja yang layak dijadikan rujukan. Lu gak mau kan baca berita dan artikel dari website ecek-ecek dengan domain .blogspot.com .wordpress.com .ml .cf .tk .ga dan blog gratisan lainnya. Disamping itu kalau website lebih mudah diblok oleh pemerintah secara satu-satu blog mana saja yabg suka nyebar hoax.

Nah itu aja sih, semoga artikel gw yang ecek-ecek ini dapat membuat lu pada bosen. Cocok buat bacaan sebelum tidur biar cweppet ngantuk gitu. Haha.. Sumpah deh gw gak se-asik artikel gw ini. Lu tau sendiri kan gw agak rada-rada introvert gitu. Kaku banget gw kalo harus ngomong pake mulut. Yaiyalah pake mulut emang pake kuping. (Ngarep artikel ini nyaman dibaca, padahal ueeek). Jangan lupa share ya..!

Kedudukan dan Fungsi Mahkamah Agung Dalam Pelaksanaan Kekuasaan Kehakiman

Mahkamah Agung via mahkamahagung.go.id

BAB I

PENDAHULUAN

Mahkamah Agung yang kemudian disingkat MA adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan kehakiman bersama-sama dengan Mahkamah Konstitusi. Menurut UUD 1945 pasal 24A mengatakan bahwa Mahkamah Agung merupakan sebuah lembaga Negara yang berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang
Dalam konteks penegakan hukum di Indonesia, hakim agung memiliki tugas mulia sebagai pengawas internal tugas hakim dalam pengadilan. Hal ini terjadi karena hakim agung yang berada dalam institusi Mahkamah Agung adalah juga seorang hakim. Maka menurut undang-undang, hakim agung berhak melakukan pengawasan terhadap kinerja hakim dalam proses pengadilan, demi hukum dan keadilan.
Adanya pengawasan tugas hakim ini sangat diperlukan, karena hakim sering lalai dalam menjalankan kemandirian kekuasaannya. Akibat dari kelalaian ini, hakim dapat saja bersikap subjektif dalam mengambil keputusan dan unsur keberpihakan pada salah satu pihak yang berperkara pasti tak terhindarkan. Hal ini bukan hanya sebuah hipotesa, namun merupakan fakta hukum yang terjadi. Banyak warga masyarakat sudah tidak begitu percaya dengan hakim dan penegakkan hukum yang selama ini dijalankan di pengadilan negeri.
Oleh karena itu, dalam makalah ini kami bahas bagaimana kedudukan dan fungsi mahkamah agung sebagai pemegang kekuasaan kehakiman tertinggi bersama-sama dengan Mahkamah Konstitusi.
BAB II
PERMASALAHAN
Bagaimana Kedudukan Mahkamah Agung Sebelum Perubahan UUD 1945?
Bagaimana Kedudukan Mahkamah Agung Setelah Perubahan UUD 1945?
Bagaimana Fungsi Mahkamah Agung?

Anda bisa download makalah ini dalam format pdf melalui asamsul.com/mahkamahagung

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kedudukan Mahkamah Agung Sebelum Perubahan UUD 1945
Sebelum perubahan UUD 1945, Mahkamah Agung merupakan pemegang tunggal kekuasaan kehakiman sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 24-25 UUD 1945. Dalam penjelasan pasal tersebut ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka, yaitu terlepas dari pengaruh pemerintah. Secara eksplisit kedudukan Mahkamah Agung telah diatur dalam undang-undang dasar, sehingga tidak ada kekuasaan lembaga negara lain yang memiliki kewenangan untuk melakukan kekuasaan kehakiman. Akan tetapi, implementasinya tidak dapat dipisahkan dari konfigurasi politik yang dianut. Seperti pada Pasal 11 ayat (2) UU Nomor 14 Tahun 1970 yang menyatakan, “Mahkamah Agung mempunyai organisasi, administrasi, dan keuangan tersendiri. Dalam penjelasan pasal ini dikatakan bahwa hal demikian berarti organisasi, administrasi, dan keuangan tersebut terpisah dari administrasi dan keuangan Departemental. Walaupun demikian penentuan organisasi, administrasi, dan keuangan Sekretariat Mahkamah Agung itu dilakukan oleh Pemerintah dengan bahan-bahan yang di sampaikan oleh Mahkamah Agung.
Adanya aturan tersebut menunjukkan adanya keraguan dalam menjadikan Mahkamah Agung sebagai pemegang tunggal kekuasan kehakiman. Sebab di satu sisi UUD 1945 menjadikan Mahkamah Agung sebagai lembaga tinggi negara yang otonom dan pemegang tunggal pelaksana kekuasaan kehakiman, sedangkan di sisi lain pengorganisasian Mahkamah Agung justru dikendalikan atau dicampuri oleh lembaga tinggi negara lainnya(Pemerintah) yang setara dengan Mahkmah Agung. kondisi itu memberikan gambaran bahwa kedudukan Mahkamah Agung sebagai lembaga tinggi negara yang rentan atau sebagai lembaga negara negara pinggiran.
Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan kehakiman juga diatur dalam TAP MPR No. III/MPR/1978, Pasal 11 yang berbunyi:
Mahkamah Agung adalah Badan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman yang dalam pelaksanaan tugasnya, terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh-pengaruh lainnya;
Mahkamah Agung dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum, baik diminta maupun tidak, kepada Lembaga-lembaga Tinggi Nagara;
Mahkamah Agung memberikan nasehat hukum kepada Presiden/Kepala Negara untuk pemberian/penolakan grasi;
Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji secara material hanya terhadap peraturan-peraturan perundangan di bawah Undang-undang.
Adanya pengaturan sebaimana disebut di atas, baik dalam UUD 1945 ataupun TAP MPR No. III/MPR/1978 memberikan penegasan bahwa kedudukan Mahkamah Agung kuat dan sejajar dengan lembaga tinggi negara lainnya serta merupakan satu-satunya pemegang kekuasaan kehakiman di Indonesia. Akan tetapi pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yaitu pada pasal 26 berbunyi, “Tugas serta tanggung jawab, susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat Jenderal Mahkamah Agung ditetapkan dengan Keputusan Presiden.” Adanya pengaturan pasal 26 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 mengurangi terhadap otonomi kedudukan Mahkamah Agung. Sebab, kedudukan Sekretaris Jendral sebagai pelaksana teknis sangat stragis karena menjadi jantung dari hidup Mahkamah Agung.
Menurut UU Nomor 14 Tahun 1985, Susunan Mahkamah Agung terdiri dari Pimpinan, Hakim Anggota, Panitera, dan Sekretaris Jenderal Mahkamah Agung(Pasal 4). Pimpinan Mahkamah Agung terdiri dari seorang Ketua, seorang Wakil Ketua, dan beberapa orang Ketua Muda. Hakim Anggota Mahkamah Agung adalah Hakim Agung (Pasal 5).
Fungsi dan kewenangan Mahkamah Agung ditegaskan dalam pasal 1 UU Nomor 4 Tahun 1985 yang berbunyi : “Mahkamah Agung adalah Lembaga Tinggi Negara sebagaimana dimaksudkan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor III/MPR/1978.” Penegasan tentang hal ini sebagaimana diatur dalam pasal 11 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor III/MPR/1978 yang menyatakan :
Mahkamah Agung adalah Badan yang melaksanakan Kekuasaan Kehakiman yang dalam pelaksanaan tugasnya, terlepas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah dan pengaruh-pengaruh lainnya.
Mahkamah Agung dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum, baik diminta maupun tidak, kepada Lembaga-lembaga Tinggi Negara.
Mahkamah Agung memberikan nasehat hukum kepada Presiden/Kepala Negara untuk pemberian/penolakan grasi.
Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji secara materiil hanya terhadap peraturan-peraturan perundangan di bawah Undang-undang.
3.2 Kedudukan Mahkamah Agung Setelah Perubahan UUD 1945
Setelah reformasi yang di mulai pada tahun 1998, ide untuk melakukan perubahan terhadap UUD 1945 mulai muncul sejak tahun 1999 dengan perubahan pertama yang berlanjut hingga perubahan keempat pada tahun 2002, sejak tahun 1999, sebenarya telah dimulai upaya untuk menyatukan kekuasaan kehakiman dalam satu lembaga peradilan mempunyai dua atap yaitu ;
Peradilan umum dan peradilan tata usaha negara , pembinaan adminitrasi, keuangan dan kepegawaian di bawah pemrintah. Departemen kehakiman (sekarang kementrian hukum dan Hak Asasi Manusia Kemenhuk dan Ham) dan pembinaan teknis peradilan di bawah Mhkamah Agung R.I.
Peradilan Agama ; pembinaan adminitrasi, keuangan dan kepegawaian di bawah Departemen Agama dan pembinaan teknis di bawah Mahkamah Agung R.I.
Peradilan militer ; pembinaan admintrasi, keuangan dan kepegawaian di bawah Departemen Pertahanan dan pembinaan teknis di bawah Mahkamah Agung. R.I.
Sistem dua atap tersebut mulai diakhiri dengan diterbitkanya UU No.35 Tahun 1999 tentang perubahan atas Undang-undang No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok kekuasaan Kehakiman, di mana dalam pasal 11 yang menjadi dasar hukum sistem dua atap diubah menjadi, badan-badan peradilan sebgaimana di maksud dalam pasal 10 ayat (1),secara organisatoris,adminitratif dan finansial berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. Jangka waktu peralihan menjadi satu atapa di bawah Mahkamah Agung tersebut adalah lima tahun sampai dengan Agustus 2004.
Mahkamah Agung, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di bidang kekuasaan kehakiman, mempunyai tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbanagan antar kekuasaan dan menjaga prinsisp independensil peradilan sebagai prinsip utama negara demokrasi. Independensi lembaga peradilan dijamin berdasrkan hukum international, antara lain.
Declaration of Human rights.
International covenant on civil and political Rights.
Vienna Declaration and Programme for Action 1993.
International Bar ASSociation code of Minimum Standards of judicial Independence.
Universal Declaration on the Independence of justice, Montreal 1983 dan sebgainya
Oleh karna itu, baik sebelum perubahan maupun sesudah perubahan terhadap UUD 1945, Mahkamah Agung adalah lembaga tinggi negara pemegang kekuasaan yudikatif, setelah perubahan UUD 1945, kekuasaan kehakiman selain berpuncak ke Mahkamah Agung juga berpuncak ke Mahkah Konstitusi, sebagai lembaga peradilan konstitusi bentukam pascaperubahan UUD 1995, sebagai konsekuensi logis dan perwujudan gagasan cheks and balance, Menurut Hamdan Zoelva, perubahan UUD telah mengintrodusir Lembaga negara yang baru di di bidang yudikatif yaitu Mahkamah Konstitusi yang berkedudukan di samping Mahkamh Agung. Dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, limgkungan peradilan militer, lingkungan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamh Konstitusi.
Selanjutnya dalam Pasal 24A ayat (1) UUD 195 menyebutkan, mahkamah agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undnag-undang. Hal ini juga dipertegas dengan UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 20 ayat (2) menyebutkan bahwa :
(2) Mahkamah Agung berwenang:
mengadili pada tingkat kasasi terhadap putusan yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung, kecuali undang-undang menentukan lain;
menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang; dan
kewenangan lainnya yang diberikan undang-undang.
Sedangkan menurut pasal 1 UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung menyebutkan bahwa Mahkamah Agung adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3.3 Fumgsi Mahkamah Agung
Fungsi Peradilan
Sebagai Pengadilan Negara Tertinggi, Mahkamah Agung merupakan pengadilan kasasi yang bertugas membina keseragaman dalam penerapan hukum melalui putusan kasasi dan peninjauan kembali menjaga agar semua hukum dan undang-undang diseluruh wilayah negara RI diterapkan secara adil, tepat dan benar.
Disamping tugasnya sebagai Pengadilan Kasasi, Mahkamah Agung berwenang memeriksa dan memutuskan pada tingkat pertama dan terakhir.
semua sengketa tentang kewenangan mengadili;
permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 28, 29,30,33 dan 34 Undang-undang Mahkamah Agung No. 14 Tahun 1985);
semua sengketa yang timbul karena perampasan kapal asing dan muatannya oleh kapal perang Republik Indonesia berdasarkan peraturan yang berlaku (Pasal 33 dan Pasal 78 Undang-undang Mahkamah Agung No 14 Tahun 1985).
Erat kaitannya dengan fungsi peradilan ialah hak uji materiil, yaitu wewenang menguji/menilai secara materiil peraturan perundangan dibawah Undang-undang tentang hal apakah suatu peraturan ditinjau dari isinya (materinya) bertentangan dengan peraturan dari tingkat yang lebih tinggi (Pasal 31 Undang-undang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985).
Fungsi Pengawasan
Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap jalannya peradilan di semua lingkungan peradilan dengan tujuan agar peradilan yang dilakukan Pengadilan-pengadilan diselenggarakan dengan seksama dan wajar dengan berpedoman pada azas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan, tanpa mengurangi kebebasan Hakim dalam memeriksa dan memutuskan perkara (Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan).
Mahkamah Agung juga melakukan pengawasan :
terhadap pekerjaan Pengadilan dan tingkah laku para Hakim dan perbuatan Pejabat Pengadilan dalam menjalankan tugas yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok Kekuasaan Kehakiman, yakni dalam hal menerima, memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya, dan meminta keterangan tentang hal-hal yang bersangkutan dengan teknis peradilan serta memberi peringatan, teguran dan petunjuk
yang diperlukan tanpa mengurangi kebebasan Hakim (Pasal 32 Undang-undang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985).
Terhadap Penasehat Hukum dan Notaris sepanjang yang menyangkut peradilan (Pasal 36 Undang-undang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985).
Fungsi Mengatur
Mahkamah Agung dapat mengatur lebih lanjut hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-undang tentang Mahkamah Agung sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan atau kekosongan hukum yang diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan (Pasal 27 Undang-undang No.14 Tahun 1970, Pasal 79 Undang-undang No.14 Tahun 1985).
Mahkamah Agung dapat membuat peraturan acara sendiri bilamana dianggap perlu untuk mencukupi hukum acara yang sudah diatur Undang-undang.
Fungsi Nasehat
Mahkamah Agung memberikan nasihat-nasihat atau pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum kepada Lembaga Tinggi Negara lain (Pasal 37 Undang-undang Mahkamah Agung No.14 Tahun 1985). Mahkamah Agung memberikan nasihat kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam rangka pemberian atau penolakan grasi (Pasal 35 Undang-undang Mahkamah Agung No.14 Tahun 1985). Selanjutnya Perubahan Pertama Undang-undang Dasar Negara RI Tahun 1945 Pasal 14 Ayat (1), Mahkamah Agung diberikan kewenangan untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden selaku Kepala Negara selain grasi juga rehabilitasi. Namun demikian, dalam memberikan pertimbangan hukum mengenai rehabilitasi sampai saat ini belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaannya.
Mahkamah Agung berwenang meminta keterangan dari dan memberi petunjuk kepada pengadilan disemua lingkunga peradilan dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 25 Undang-undang No.14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. (Pasal 38 Undang-undang No.14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung).
Fungsi Administratif
Badan-badan Peradilan (Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara) sebagaimana dimaksud Pasal 10 Ayat (1) Undang-undang No.14 Tahun 1970 secara organisatoris, administrative dan finansial sampai saat ini masih berada dibawah Departemen yang bersangkutan, walaupun menurut Pasal 11 (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999 sudah dialihkan dibawah kekuasaan Mahkamah Agung.
Mahkamah Agung berwenang mengatur tugas serta tanggung jawab, susunan organisasi dan tata kerja Kepaniteraan Pengadilan (Undang-undang No. 35 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-undang No.14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman).
Fungsi Lain-Lain
Selain tugas pokok untuk menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya, berdasar Pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 serta Pasal 38 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985, Mahkamah Agung dapat diserahi tugas dan kewenangan lain berdasarkan Undang-undang.
BAB III
PENUTUP
Dengan Kedudukan Mahkamah Agung dalam Pelaksanaan Kekuasaan yang di mana ditegaskan dalam Pasal 24-25 UUD 1945. Dalam penjelasan pasal tersebut ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka, yaitu terlepas dari pengaruh pemerintah. Secara eksplisit kedudukan Mahkamah Agung telah diatur dalam undang-undang dasar, sehingga tidak ada kekuasaan lembaga negara lain yang memiliki kewenangan untuk melakukan kekuasaan kehakiman. Akan tetapi, implementasinya tidak dapat dipisahkan dari konfigurasi politik yang dianut. Seperti pada Pasal 11 ayat (2) UU Nomor 14 Tahun 1970 yang menyatakan, “Mahkamah Agung mempunyai organisasi, administrasi, dan keuangan tersendiri.
Dengan adanya Mahkamah Agung Lembaga peradilan tinggi di Indonesia, diharapkan dapat mengawasi tingkah laku para hakim secara adil,dan tepat serta juga dapat memberikan pertimbangan–pertimbangan se adil-adilnya demi kelancaran penyelenggaraan peradilan di Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Hoesein, Zainal Arifin, Kekuasaan Kehakiman Indonesia. Cet. Pertama(Malang: Setara Press), 2016.
Panggabean, Henry P., Fungsi Mahkamah Agung Dalam Praktek Sehari-Hari, Cetakan Pertama(Pustaka Sinar Harapan : Jakarta), 2001.
Jurnal
Angkouw, Kevin, Fungsi Mahkamah Agung Sebagai Pengawas Internal Tugas Hakim Dalam Proses Peradilan(Online).
Awaliyah , Siti, Sistem Ketatageraan Republik Indonesia Berdasarkan Paiicasila Dan UUD 1945,
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 tentangKetentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman
TAP MPR No. III/MPR/1978 tentang Kedudukan dan Hubungan Tata-Kerja Lembaga Tertinggi Negara dengan/atau Antar Lembaga-Lembaga Tinggi Negara.
Pasal 26 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.
Undang-undang No. 35 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-undang No.14 Tahun 1970 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

Tentang ana antum akhi ukhti dan membiasakan diri berbahasa arab

Saya kembali tertarik menulis tentang hal ini karena saya melihat belakangan ini banyak orang yang sibuk untuk mengkritik, menghina, menjelekkan orang lain karena sebatas like and dislike. Bukan melihat baik tidak baiknya.
Terkait bahasa gaulnya para aktivis dakwah yang ber-ana antum akhi unkti itu, sebenarnya bukan hal yang urgen untuk dibahas apalagi diperdebatkan. Akan tetapi ada sebagian kelompok yang terlalu lebay mempermasalahkan hal ini.
Soekarno pernah berkata : “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi Islam jangan jadi orang arab, kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah Jadi orang Nusantara dengan Adat-Budaya Nusantara yang Kaya Raya ini.” Apa yang dikatakan Soekarno ini benar, bahwa kita sebagai bangsa Indonesia harus mempunyai identitas sebagai karakteristik bangsa indonesia sendiri dan tidak perlu meniru budaya Arab, budaya India, dan atau bahkan budaya Yahudi. Budaya islam dengan budaya arab sendiri adalah suatu hal yang berbeda. Akan tetapi yang bikin tidak elok adalah orang-orang yang teriak-teriak dengan menggunakan kata-kata bung Karno hanya karena suatu kebencian pada golongan tertentu. Mirisnya mereka hanya menggunakan penafsiran mereka sendiri terhadap kata-kata bung Karno tersebut tanpa melihat apa yang terjadi pada kenyataannya. Dengan kata lain mereka seenaknya langsung menjudge orang-orang yang menggenakan jubah, bersorban, dan berselendang dengan sebutan orang-orang yang tidak cinta NKRI.
Disamping bung Karno, ada satu lagi tokoh masyarakat, sang Guru Bangsa K.H. Abdurrahman Wahid (Gusdur) pernah berkata : “Islam datang bukan utk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya arab. Bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’. Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya arabnya.”
Lagi-lagi saya tidak mempermasalahkan  perkataan Gusdur ini. Apa yang dikatakan Gusdur benar, beliau mengingatkan kepada para aktivis dakwah agar  tidak hanya fashih berbahasa ana antum akhi ukhti, tetapi juga menyerap ajaran agama islamnya. Dan islam itu bukan soal berbahasa ana antum, tetapi bagaimana perilaku kesehariannya dalam bertaqwa kepada Allah SWT.

Via Instagram.com/hyuagvhi
Dan cukup jelas bahwa dari kedua perkataan  tokoh di atas tidak ada masalah. Cuman mungkin, saya katakan mungkin. Ada sebagian orang yang merasa lebih baik dari para aktivis dakwah yang ber-ana antum itu kemudian ingin unjuk gigi. Saya kira ini kan kelewat lebay. Mereka kemudian membuat meme dari foto Gusdur, kemudian disampingnya di berikan kata-kata yang tadi. Setelah itu di upload di BBM, jadi status WA, di unggah di Facebook, Instagram. Tak hanya itu dia juga nge-Tag para aktivis dakwah yang ber-ana antum itu. Tentu ini sangat melukai hati para aktivis dakwah. Apalagi yang pasang DP dan unggah meme itu orang ugal-ugalan yang shalat aja belum tentu. 
Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tidak menyalahkan pendapat kedua tokoh tersebut. Apa yang dikatakan kedua tokoh (Soekarno – Gusdur) itu benar. Karena mereka berkata demikian kebaikan kita bangsa Indonesia. Tetapi yang saya temui akhir-akhir ini mereka teriak-teriak dengan menirukan perkataan kedua tokoh itu terkesan hanya karena unsur Like and Dislike. Mereka tentu tidak tau apa dasar atau landasan para aktivis dakwah itu ber-ana antum. Sehingga dengan seenak perutnya mereka menjudge tidak cinta NKRI dan tidak cinta budaya Nusantara. 

Tidak ada salahnya menyerap budaya dari manapun

Selama tidak bertentangan atau menyelisihi ajaran Islam, tidak ada salahnya menyerap budaya dari manapun selama itu bermanfaat. Justru kita wajib mengganti budaya yang bahkan budaya kita sendiri pun jika itu merugikan atau menyelisihi ajaran Islam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dahulu, beliau berjuang keras untuk mengubah budaya Arab yang tidak sesuai dengan risalah yang beliau bawa yaitu ajaran Islam. Hal yang sama pula sebagaimana telah dilakukan oleh Dewan Dakwah Walisanga, dimana mereka berusaha menyelipkan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam budaya masyarakat waktu itu. Seperti wayang kulit yang kemudian dimodivikasi oleh Sukan Kalijaga sehingga tidak menyelisihi ajaran Islam. 
Sementara dalam hal menyerap bahasa asing, di Indonesia sudah menjadi hal yang lumrah. Seperti sorry, thank you, bro, sis, yes, no, dan banyak lagi bahasa-bahsa serapan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia. Jika penggunaan kata serapan itu tidak dilingkari, lalu mengapa kata yang obyek serapannya dari bahasa Arab begitu diingkari?

Bahasa ana antum untuk membiasakan dan mempejari bahasa Arab

Sudah tentu kita ketahui bahwa Al-Quran diturunkan kepada seorang Nabi dari Bangsa Arab. Bahasa Arab merupakan bahasa paling mulia yang telah terpilih oleh Allah SWT sebagai bahasa Al-Quran.
“Sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu mengetahui.”(Q.S. Yusuf : 2)
“Dan jikalau Kami jadikan Al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al-Quran) dalam bahasa asing sedangkan (Rasul adalah orang) Arab?”(Q.S. Fusshilat : 44)

Dalam suatu riwayat Rasulullah pernah bersabda: “Cintailah Bahasa Arab karena tiga hal : Karena aku bangsa Arab, Alquran berbahasa Arab, dan obrolan ahli surga di surga adalah bahasa Arab.” Syaikh Albany mengatakan dalam Silsilah Al-Hadiits Ad-Dhaifah, bahwa hadits ini adalah maudhu’ (palsu). Tetapi sebagian para ulama ada yang menghasankan. Namun terlepas dari hasan dhaif maudhu’nya hadist tersebut hal yang terpenting adalah memetik hikmahnya. Allah seolah-olah ingin menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa yang menyebar dan membumi bersama Islam. Hal ini dapat kita lihat dengan tidak boleh digantinya bahasa Al-Quran dan bacaan-bacaan dalam shalat (takbir, fatihah dan tahiyyat akhir) dengan bahasa selain bahasa Arab. Lantas bagaimana kita bisa memahami bacaan dalam shalat yang berbahasa arab itu jika kita tidak belajar dan membiasakan berbahasa Arab.
Al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk hidup juga berbahasa Arab. Lalu bagaimana bisa mempelajari dan mengkaji Al-Quran jika tidak belajar bahasa Arab. 

Seni dan Penyemangat berdakwah

Bahasa ana antum diidentik dengan bahasa gaulnya aktivis dakwah. Hal ini tentu punya arti tersendiri kalangan mereka. Bahasa itu seakan menunjukkan kesatuan dan silaturrahmi dengan percakapan yang santun dan tidak kasar. Coba bayangkan bagaimana mulut dan muka orang itu ketika berucap afwan, syukran, akh, dan ukh tentu tidak bisa dilafadzkan dengan bernada kasar atau dengan marah-marah. Jadi, dengan bahasa itu akan menyelamatkan kita dengan kata-kata kasar yang cenderung menyakiti hati saudara kita.
Sebagian orang juga mengatakan, bahwa bahasa akhi, ukhti, ikhwan, dan akhwat adalah bahasa yang diskriminatif. Karena mereka menganggap bahwa yang disebut ikhwan dan akhwat hanyalah orang-orang yang sering ikut pengajian dan taat beragama Islam. Padahal itu adalah kesalahan yang besar. Para aktivis dakwah menyebut ikhwan dan akhwat tidak pada semua orang karena belum tentu semua orang suka disebut ikhwan maupun akhwat, apalagi mereka tidak tau apa artinya. Masak iya kalau dalam konser Duo Srigala bilangnya “Ikhwan Akhwat semua ayo goyang..”.
Tidaklah benar bahwa istilah ikhwan dan akhwat hanya untuk orang-orang yang sering ikut pengajian. Karena ikhwan dan akhwat itu artinya saudara-saudara dan saudari-saudari. Cuman karena yang sering menggunakan istilah ini adalah para aktivis dakwah, maka mereka menggunakannya dalam aktivitas mereka seperti dalam kajian-kajian dan sebagainya. Tentu kalau dalam konser Duo Srigala itu bukan aktivitas mereka maka wajar tidak ada istilah ikhwan akhwat.

Budaya Islam dan budaya Arab

Orang-orang menganggap bahwa dalam hal penampilan, semuanya adalah budaya arab bukan budaya islam. Seperti berjenggot, berjubah putih, bersorban dan sejenisnya. Mereka menganngap itu adalah budaya arab saja. Misalkan berjenggot yang jelas-jelas merupakan sunnah nabi untuk menyelisihi penampilan orang-orang kafir. Dan bahkan anehnya sebagian orang mengidentikkan jenggotan sebagai teroris.
Adapun tentang sorban dan selendang para ulama memang terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan sunnah dan adapula yang mengatakan hanya kebiasaan bangsa arab saja. Tentu hal ini tidak perlu diperdebatkan dengan mengaitkan kecintaan terhadap NKRI. Yang terjadi akhir-akhir ini adalah mereka menganggap orang-orang berjubah putih, bersorban, dan berselendang itu tidak cinta NKRI dan lebih cinta budaya arab. Bagaimana bisa mereka mengukur kadar cintanya seseorang sementara sampai saat ini belum ada alat secanggih apapun yang dapat mengukur rasa cinta.
Terlepas dari penampilan yang mereka katakan budaya arab itu atau lebih seringnya disebut ngarab atau kearab-araban, maka yang perlu kita pertanyakan adalah bagaimana dengan mereka yang juga menyerap budaya barat. Baik dari pakaian atau tingkah laku dan hiburan? Bukankah budaya barat lebih sangat tidak cocok dengan bangsa Indonesia. Mengapa yang selalu dipermasalahkan budaya yang objek serapannya dari Arab sementera dari budaya barat itu tidak pernah diungkit-ungkit? Silahkan dipikir!
Kalau budaya barat yang sudah jelas tidak sesuai bahkan bertentangan dengan norma dan moral bangsa Indonesia dapat kita serap, lalu mengapa budaya arab yang bahkan pernah dilakukan oleh Rasulullah sebagai suri teladan tidak boleh kita serap?
Pada intinya kita jangan terlalu lebay mempermasalahkan hal-hal yang tidak begitu urgen. Tugas kita adalah saling mengingatkan bukan saling menyalahkan. Tentu mengingatkan dengan cara yang benar dan tidak berpotensi menyakiti hati saudara kita. Lalu begaimana tanggapanmu? Silahkan tinggalkan komentar! Atau share jika dirasa bermanfaat!

Begini cara mengetahui perbedaan orang baik dan orang yang hanya pura-pura baik

Benar itu relatif tetapi baik itu absolut. Bener gak? Kalau ngomongin orang baik, pasti akan kita jumpai di sudut-sudut bumi ini (masalahnya bumi itu bulat, jadi gak punya sudut 😁). 
Di samping orang baik, di dunia ini ada loh orang yang pura-pura baik. Nah itu yang disebut dengan orang munafik. Dan di masa Rasulullah pun orang munafik ini sudah ada(ternyata udah dari dulu ya). Rasulullah pun memberikan petunjuk kepada kita melalui sabdanya bahwa tanda-tanda orang munafik itu ada tiga.
1. Ketika berbicara, ia dusta;
2. ketika berjanji, ia mengingkari; dan
3. ketika dipercaya, ia berkhianat.

Bila engkau berbicara, lain di mulut lain di hati.
Dan bila engkau berjanji, selalu engkau ingkari.
Dan bila kau dipercaya, lalu kau mengkhianatinya.
Itu munafik namanya..
Itu munafik namanya..
Download Lagu Munafik dari Ike Nurjannah

Nah, kalau orang munafik ada tanda-tanda pasti orang baik juga ada tanda-tanda lho.. Cekidoooot … (Versi saya .. hehe)

1. Lihat Temannya 

Untuk melihat apakah si dia orang baik-baik atau bukan, maka kita dapat melihat pada teman-teman sejatinya atau para sahabatnya. Karena sebagaimana yang Rasulullah telah bersabda : “Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin”.

Via Loop.co.id

Orang yang suka berjudi, akan berteman dengan orang yang suka berjudi pula. Pencinta music akan cenderung berteman dengan pencinta music juga. Orang yang senang mengaji Al-Quran, akan cenderung berteman dengan orang yang senang mengaji Al-Quran pula. Manusia memiliki kecendrungan untuk berteman dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengannya. Entah tujuan, hobby, kepribadian, dan lain-lain. 

Jadi, tidak mungkin orang baik sering berkumpul dengan orang peminum minuman keras. Yah, mungkin sih ada 1,2,3 dengan tujuan tertentu. Tapi mayoritas orang baik akan berteman dengan orang yang baik.

2. Lihat Ucapannya 

Orang yang baik akan cenderung berkata yang baik-baik saja. Dia akan menghindari perkataan yang sia-sia apalagi perkataan kotor dan tidak senonoh. Sebagaimana Rasulullah telah bersabda : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. 
Via Islamic Agency

Jadi, kalau yang dia katakan selalu hal-hal yang kotor dan tidak berkualitas, bisa jadi ia hanya pura-pura baik. Sebab orang baik menjaga ucapannya.

3. Lihat Penampilannya 

Penampilan ini adalah hal yang paling mudah kita lihat, karena memang selalu ditampakkan orang itu. Penampilan ini terkadang menipu. Karena semua orang dapat dengan mudah menggunakan pakaian yang akan menyerupai atau akan berpotensi dianggap orang sebagai orang baik. 
Via Never Blast

Akan tetapi lain dari pada itu, sebenarnya pakaian juga mencerminkan kepribadian seseorang. Coba kamu perhatikan orang yang senang menggunakan celana atau sarung atau jubah, atau perempuan yang senang menggunakan rok panjang atau cenala pendek, atau orang yang senang menggunakan peci, songkok, blangkon atau orang yang senang menggunakan topi. 

Kalau kita mencoba meluangkan waktu untuk berfikir sejenak, sebenarnya pakaian yang kita pakai sehari-hari secara spontan, itu tergantung bagaimana kesenangan kita terhadap sesuatu dan mencerminkan pola pikir kita. Sebab, kita menggunakan pakaian itu karena kita pede memakainya. Nah, bisa bisa pede memakainya karena kita berfikir itu cocok dengan karakter kita. 
Ingat, penampilan yang baik memang tidak mencerminkan orang itu baik. Karena orang berpenampilan baik belum tentu orang baik, tetapi orang baik pasti berpenampilan baik.

4. Lihat Perbedaannya ketika sendiri dan pada saat banyak orang 

Ini adalah poin terpenting. Dari sini kita dapat melihat kecaperan orang itu. Orang yang ikhlash, ia berbuat baik tidak akan ada bedanya ketika sendiri ataupun pada saat dilihat orang. Sementara orang yang suka cari perhatian akan jelas berbeda tingkah lakunya saat didepan umum atau ditempat pribadinya.

Via Jagalah Hatimu

Contoh, kalau dia rajin bersih-bersih. Coba cek kamar tidurnya. Kalau tempat tidurnya juga bersih berarti dia memang ressek(bahasa Madura: rajin bersih-bersih).

Nah, gimana sudah ada gambaran khan tentang orang baik dan orang yang pura-pura baik? Oke gitu aja dari saya, kalau berkenan tinggal komentar dan share jika menurutmu ini bermanfaat.

5 Keuntungan menggunakan peci hitam

Bagi orang Melayu khususnya orang Indonesia, peci hitam ini sudah tidak asing lagi. Karena tutup kepala berwarna hitam ini telah menjadi songkok nasional Indonesia. 
Dari mana asal mula peci ini? Konon, peci merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga. Pada mulanya beliau membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama kuluk yang memiliki bantuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya, Raja terakhir Majapahit Brawijaya V.
Ada pula yang mengatakan peci dibawa oleh Laksmana Ceng Ho ke Indonesia. Peci berasal dari kata Pe (artinya delapan) dan Chi (artinya energi), sehingga arti peci itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.
Ada pula yang menyebutnya dengan “Songkok”, kalau orang Madura mengartikannya dengan “se kosong nongko'”. Namun dalam bahasa Indonesia ada yang mengartikannya dengan “kosong dari mangkok”. Artinya, hidup seperti mangkok yang kosong. Maka harus diisi dengan ilmu yang berkah. Sementara kata Kopiah berasal dari “Kosong karena Dipuah.” Maknanya, kosong karena dibuang (di pyah). Apa yang dibuang? Kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan syaitan.
Sementara kata Bung Karno sendiri yang mempopulerkan peci ini mengatakan bahwa kata “peci” berasal dari kata “pet” (topi) dan “je”, kata Belanda untuk mengesankan sifat kecil. Karena peci ini dipakai oleh pekerja Bangsa Melayu. Baik dari sejarah pemakaian dan penyebutan namanya, peci mencerminkan Indonesia: satu bangunan “inter-kultur”. 
Via Oke-Aja

Dalam buku otobiografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan melawan penjajah. Sama halnya dengan celurit dari Pak Sakera dari Madura yang merupakan simbol pergerakan perlawan terhadap penjajah. Namun, kemudian secara perlahan Belanda merusak citra celurit menjadi simbol tradisi carok. 
Di zaman sekarang ini budaya memakai peci sudah mulai ditinggalkan. Hanya segelintir orang yang mengenakannya. Itupun hanya pada acara-acara resmi. Orang-orang pada jaman ini lebih senang keluar rumah dengan kepala terbuka. Sebagian orang merasa malu menggunakan peci karena tidak kekinian katanya. Dan ada pula yang karena menganggap ribet, karena peci hitam ini tidak boleh terkena air, sebab ia akan cepat rusak dan berubah warna. 
Nah, terlepas dari itu, ternyata menggunakan songkok nasional ini punya beberapa keuntungan loh. Yuk simak apa saja keuntungannya. 

1. Cinta Indonesia : NKRI harga mati! 

Via Jejak Tinta


Orang yang memakai peci hitam pertanda ia cinta budaya Indonesia. Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Cindy Adams menuturkan, Soekarno pernah berkata, “Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” Itulah awal mula Sukarno mempopulerkan pemakaian peci. 

2. Menghemat pengeluaran 

Via  Uang teman

Loh apa hubungannya? Ada lah. Sebab jika kamu menggunakan peci, kamu gak perlu beli minyak rambut yang mahal itu. Dengan rambut yang acak-acakan pun kalau pakai peci langsung deh kelihatan rapi. 

3. Aman dari kata jones 

Via Pidipedia

Kok bisa? Ya bisa. Misalkan kamu lagi jalan sendiri nih. Kalau kamu gak pakai peci, orang bakal bilang, “Ciye, jones jalan sendiri”. Tapi kalau pakai peci bisa-bisa kamu dikira orang kantoran yang super sibuk, atau bahkan kamu dikira ustadz. Ya kalau ustad gak mungkin lah pacaran sebelum halal. Ya toh? 

4. Obat sakit kepala 

Via sakitkepalasebalah

Masak sih? Biasanya dulu kalau orang sakit kepala, kepalanya diiket. Nah mending pakai peci, tuh udah ngiket kepala dengan sendirinya. 

5. Lebih sopan

Via OSIS MPK SMAN 2 Cimahi

Berbicara kesopanan memang tiap daerah berbeda-beda. Namun dengan dengan memakai peci setidaknya menjaga kerapian. Dengan kerapian itulah secara tidak langsung kita menghormati setiap orang yang bertemu, berpapasan, dan berhadapan dengan kita. 

Nah, itu adalah keuntungan menggunakan peci atau songkok nasional kita. Tapi di berbagai daerah khususnya di daerah saya. Dimana di suatu wilayah bagian dari kabupaten Sumenep ini, penggunaan kopyah yang tinggi sering diidentikkan dengan “Bajingan” atau “Preman”. Sehingga saya sendiri lebih senang menggunakan kopyah dengan tinggi tidak lebih dari 8 cm. 
Bagaimanapun anggapan orang tentang orang berkopyah. Kita tidak perlu malu bukan untuk berkopyah? Karena meskipun sekarang Indonesia sudah merdeka, tapi secara mental, akidah, kebudayaan, ekonomi, sampai sistem hukum sebenarnya kita sedang dijajah. Maka dengan memakai peci atau berkopyah, kita menunjukkan bahwa kita menolak penjajahan di Indonesia lahir maupun batin. Hidup Indonesia! 
Mungkin hanya itu dari saya, terimakasih dan share jika di rasa bermanfaat.

Sekelumit kisah: Aku menyesal Jadi Mentor di Mentoring UTM

Via Mentoring Official
Di tengah suasana lengang, Aku duduk di atas kursi usangku bersender pada dinding yang telah disulap menjadi pagar di depan rumah kontrakanku. Aku merenung, rupanya aku telah lama berada di sini, di tengah kebisingan kota kecil ini yang sebentar lagi menginjak semester 6 tanpa memperoleh hal yang berarti.
Sejenak aku melihat kembali histori kehidupanku. Mengingat satu-persatu teman-teman seperjuangannku. Mulai teman-teman SMA hingga teman-teman yang satu-persatu mulai aku kenal sejak aku kuliah Universitas ini. O iya aku kuliah di Universitas Trunojoyo Madura. Satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri di Pulau garam ini.
Sambil mengingat-ingat wajah teman-temanku itu yang hampir sudah kulupa karena jarang bertemu meskipun satu Universitas. Yah, maklum mereka sudah pada sibuk dengan kehidupan dan organisasi mereka masing-masing. Denger-denger mereka udah ada yang jadi ini jadi itu, udah ke sana ke sini ke situ, dapet ini dapet itu dan sebagainya. 
Ku  buka Facebook, lalu ku lihat satu persatu profil mereka. Ku lihat timeline-nya dipenuhi dengan foto-foto kesibukan dan kegiatan organisasinya masing-masing. Banyak pula ku lihat komentar temen-temen barunya. Terasa ragu hati ini meskipun hanya sekedar ingin membubuhkan komentar ucapan selamat keberhasilannya. Akhirnya, cuma bisa lihat, baca sambil scroll, baca dan srcroll lagi, terus begitu. “Sukses bro, see you on top” ucapku lirih. 
Teringat pula saat aku menjadi anggota paling aktif saat satu organisasi dengan mereka. Begitu banyak organisasi yang coba aku ikuti namun akhirnya kandas di tengah jalan. Bukan bermaksud berkhianat, tapi entahlah sepertinya aku memang tidak berjodoh dengan mereka. Hingga akhirnya aku bertahan di Mentoring PAI ini. Perlahan aku mulai meraba pertanyaan-pertanyaan yang timbul tenggelam di permukaan pikiranku. Apa yang aku peroleh? Apa yang bisa aku harapkan? Pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk ku jawab. 
Apakah pengetahuan yang mendukung perkuliahan? Aku di jurusan ilmu hukum, tidak ada kaitannya dengan matakuliah yang saya ambil. 
Popularitas dan teman yang banyak? Di Mentoring jumlah mentor tidak lebih dari seratus orang itupun tidak semuanya saya kenal. 
Jalan-jalan? Jalan-jalannya ke masjid saja. 
Kalau cewek? Tiba-tiba saja jadi geli dan pengen ketawa terbahak-bahak. Ha, masih segar ingatanku dulu ketika  dulu diintervensi dan bahkan diintimedasi agar aku punya pacar entah apa maksudnya(Saya tidak mau nyebut siapa orangnya, anda pasti tahu alasannya). Jadi mentor, sampai sekarang aku tidak pernah tahu batang hidung akhwatnya seperti apa. 
Kekuasaan dan jabatan? Mentoring bukan organisasi politik. Dan bukan ladang bagi-bagi kekuasaan. 
Lalu apa? Tidak ada. Aku tidak mendapatkan apa-apa di Mentoring. Bahkan aku hanya dibuat lelah tiap minggu tiap sore pergi ke masjid. Belum lagi ketika ngadepin mentee yang ah sudahlah susahnya kebawa mimpi. Setelah sepuluh pertemuan selesai belum lepas penderitaan masih disuguhkan tugas menyetor nilai mentee. Belum lagi kalau ada komplain nilai dari mentee, nilai tidak terinput di daftar nilai, dan ba bi bu lainnya. Kalau boleh aku jujur, ada perasaan iri yang menggedor pintu keimananku. Meskipun hampir setengah mati aku menangkalnya. Aku benar-benar telah tertinggal jauh dari mereka. Mereka telah telah melambung tinggi dan terbang jauh kemana-mana. Sementara aku, hanya berkutat di sini saja. Seperti katak dalam tempurung. Da ya, aku menyesal jadi mentor. Seharusnya aku tidak jadi mentor.
(Wajib baca sampai akhir)
Lalu kenapa tetap bertahan jadi mentor? Pertanyaan yang sangat cerdas. Sedikit aku akan bercerita. Masih segar ingatanku ketika mencoba aktif di berbagai organisasi yang begitu menjanjikan dan memberi harapan kesuksesan masa depan. Aku tidak menilai jelek organisasinya. Tapi orang-orang yang aktif didalamnya serta doktrin yang terlalu dipaksakan kepadaku. Sejak kecil dahulu, aku diajarkan bagaimana hidup tidak menyusahkan orang lain. Bagaimana hidup untuk membantu orang lain dengan ikhlash tanpa embel-embel pamrih. Juga indahnya memberi, karena tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah seperti yang telah diajarkan nabi kami. Namun ketika aku melompat jauh ke ujung barat pulau Madura ini, semua itu seperti harus ku lupakan. Bagaimana tidak? Setiap hari aku selalu diintervensi bahkan diintimidasi. Bagaimana aku harus mempunyai banyak teman. Kemudian bagaiman aku harus memanfaatkan teman-temanku untuk suatu kepentingan pribadi semata. Kemudian mereka mendengung-dengungkan bahwa kita adalah makhluk sosial. Aku tidak menutup diri untuk menjadi makhluk sosial. Tapi bukan berarti aku harus menjadi manja terhadap teman-temanku. Karena makhluk sosial itu tugasnya memberi bukan meminta.
Kongkritnya begini. Aku adalah pemuda miskin. Setiap hari kalau aku hendak pergi ke kampus, mesti berjalan kaki. Apakah karena aku tidak punya teman untuk mengantar saya, menjemput, atau pergi sama-sama ke kampus dengan motornya? Secara tegas tegas aku katakan bukan itu alasannya. Bahkan tanpa saya meminta, temen-temen saya banyak menawarkan bantuan itu yang dengan senang hati saya terkadang menolaknya. Lalu apa mauku? Pola pikir seseorang menentukan terhadap sikap dan tindakannya. Aku sudah bersyukur diberikan nikmat sehat dan semangat untuk kuliah itu sudah cukup. Itu poin terpenting dalam hidupku. Sebab ketika seseorang punya motor yang dengan sekejap bisa sampai ke kampus. Tetapi tidak punya semangat ia tidak akan pernah sampai ke kampus. Paling ia hanya bisa sampai ke warung kopi. Darimana bisa mendapatkan semangat? Dari keyakinan. Sebab jika seseorang sudah punya keyakinan untuk sampai ke kampus kemudian kuliah, semangat itu timbul dengan sendirinya dan dengan cara apapun ia akan menghalau rintangan yang menghalanginya. Contoh lain, bagaimana mungkin seseorang akan mengerjakan shalat jika ia tidak yakin akan adanya Allah dan kekuasaannya.
Semangat itu bukan harus loncat-loncat lho ya. Tidak ada yang dapat mengukur tingkat semangat seseorang. Meskipun orang yang terlihat santai, hidupnya seperti tak bergairah, hidup segan mati tak mau, belum tentu tidak memiliki semangat. Yang dapat mengetahui hanyalah dia yang merasakan. 
(Maaf pembicaraan sudah kemana-mana)
Kemudian aku pun merasakan apa yang saya sudah terjadi ini melenceng dengan pendirianku selama ini. Bukan menghindar dari masalah, tetapi aku tidak ingin menyiksa diri sendiri. Bukankah mendzalimi diri sendiri adalah perbuatan terlarang? Aku kemudian menarik diri dari mereka. Bukan berkhianat. Tapi bukankah kita punya pikiran dan cara pandang hidup kita masing-masing yang berbeda? Aku tidak akan memaksa mereka, kamu, atau siapapun untuk mengikuti langkahku. Tapi aku juga tidak senang jika kamu, mereka, dia, atau siapapun memaksakan kehendaknya kepadaku. Karena memaksa seseorang berarti menganggap seseorang itu tidak punya pikiran.
Waktu pun terus berputar bagai roda-roda kehidupan yang tak dapat dihentikan. Aku pun hidup seperti seorang pengembara. Tak punya tujuan apa-apa. Jika pagi tiba aku hanya menunggu waktu sore. Dan jika sore tiba aku menunggu waktu pagi. Terus begitu. Aku pun mengalami penurunan drastis, baik bidang akademik maupun mental. Indeks Prestasi pun menurun dan merosot tajam. Hampir saja meloncat ke dalam jurang keputus-asaan. 
Akhirnya Allah mempertemukanku dengan Mentoring ini. Setidaknya kalau kuliahku kandas di tengah jalan, ada hal yang berguna yang telah aku tanam di sini. Setidaknya ilmu yang saya ajarkan akan bermanfaat sehingga menjadi amal yang tak akan pernah terputus sampai aku lenyap dari dunia fana ini. Begitu kiranya yang ada di pikiranku pada awalnya.
Sejak saat itu aku mencoba menemukan kembali apa yang telah hilang dari diriku. Menutup lembaran masa lalu, menatap kembali lembaran masa depan.
** 
Seperti tidak terasa, sudah setahun lebih aku menjalani sebagai mentor di Mentoring ini. Kalau kau dan mereka bertanya apa saja yang aku peroleh, jawabnya TIDAK ADA(coba tebak kenapa aku menulis kata TIDAK ADA dengan huruf kapital semua). Mentoring tidak memberikan sesuatu apapun kepadaku, tapi di Mentoring aku bisa berbuat sesuatu yang berguna, sekarang dan untuk masa depan, depan, dan depan sampai aku hidup lagi untuk kehidupan kekal abadi. Bukan karena karena apa yang aku peroleh, melainkan karena tiada yang kuperoleh itu mengajariku arti ketulusan yang sebenar-benarnya. Aku bisa belajar bagaimana indahnya bekerja tanpa embel-embel pamrih.  Juga indahnya berbagi dan memberi, bukan meminta, menerima, apalagi menuntut yang bukan haknya. Dan terlebih Mentoring bebas dari intervensi golongan dan pihak manapun.  Ada sih di luar sana organisasi yang ada islam-islamnya gitu. Tapi di dalamnya malah soal politik. Itu Ormas apa parpol? Silahkan pikir sendiri.

Bukan karena apa yang ku peroleh, melainkan karena tiada yang kuperoleh itulah mengajariku arti ketulusan yang sebenar-benarnya.. via Instagram @asamsul.ID

Mungkin Allah mengabulkan doaku. Kalau dibilang kebetulan, di dunia ini tak ada yang kebetulan. Setelah saya menarik diri dari kehidupan yang serba pamrih. Tuhan mempertemukan saya dengan kehidupan yang selama ini saya idamkan. 

Jadi, kalau kamu, atau siapapun yang mengingkan popularitas, jabatan, apalagi pacar. Jangan jadi mentor di Mentoring PAI ini. Karena semua itu tidak akan kamu dapatkan, dan Mentoring tidak butuh orang-orang orang yang seperti itu. 
Kesimpulannya? Kepanjangan, aku udah capek ngetiknya dan tidak fokus lagi. Rupanya aku sampai dehidrasi ringan. Kuambil segelas air yang ku tuang dari botol minuman merk Aqua. Dan kuteguk. Aku pun kembali fokus. Rupanya aku salah nulis judul. Karena udah terlanjur salah. Aku jelasin di sini aja, yang bener itu judulnya “Sekelumit kisah: Aku TIDAK PERNAH Menyesal jadi mentor di Mentoring UTM“. 
Wes, udah itu aja semoga cerita ini dapat menjadikan kita tetap istiqamah di jalan Allah SWT. Jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat bukan jalan mereka yang sesat. Amin. 
Bersama Mentoring Indonesia Berkarakter
Share  jika dirasa bermanfaat!

Wah, WhatsApp sekarang sudah terdapat menu status loh. Makin keren deh!

Loh kan udah dari dulu WhatsApp bisa bikin status? Beda, sebelumnya kalau kita pengen lihat status WhatsApp temen di kontak kita, kita harus lihat profil dulu. Nah sekarang sudah ada menu statusnya tersendiri berjejer dengan menu Panggilan, Chatting dan Camera. Dengan status WhatsApp kita dapat mengirim foto yng tentunya telah kita edit terlebih dulu dengan fitur yang telah disediakan oleh WhatsApp.

Ini dia penjelasannya dari blog WhatsApp tentang status WhatsApp ini:

Hanya delapan tahun yang lalu, di Februari 2009, ketika kami mulai menulis beberapa baris kode pertama untuk sebuah program yang akan menjadi WhatsApp. Ide asli dibalik proyek ini adalah untuk membangun sebuah aplikasi yang memampukan teman-teman Anda dan kontak-kontak lainnya untuk mengetahui apa yang sedang Anda lakukan. Ini terjadi beberapa bulan sebelum kami menambahkan kemampuan berkirim pesan. Versi pertama aplikasi kami tampak seperti ini:

Bahkan setelah kami menambahkan perpesanan di musim panas tahun 2009, kami tetap mempertahankan fungsi dasar status “hanya teks” di WhatsApp. Setiap tahun, ketika Brian dan saya akan merencanakan proyek-proyek untuk dikerjakan, kami selalu membahas tentang meningkatkan dan mengembangkan fitur asli status “hanya teks” ini.

Dengan gembira kami umumkan bahwa, bertepatan dengan ulang tahun WhatsApp yang ke delapan pada Februari 24, kami akan menciptakan ulang fitur status. Mulai hari ini, kami sedang merilis sebuah pembaruan ke status, yang akan memampukan Anda untuk membagikan gambar dan video dengan teman-teman dan kontak Anda pada WhatsApp dengan cara yang mudah dan aman. Ya, bahkan pembaruan status Anda terenkripsi secara end-to-end.

Sama halnya dengan delapan tahun lalu ketika kami baru saja memulai WhatsApp, fitur status yang baru ini akan memampukan Anda untuk dengan mudah terus mengirim kabar terbaru dengan teman-teman Anda yang menggunakan WhatsApp, dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Dari kami semua di WhatsApp, semoga Anda menikmatinya!

***

Nah apa saja yang dapat kamu lakukan dengan status WhatsApp ini?

Ucapan selamat datang di status Whatsapp

Mengedit dan memposting foto, video, dan GIF.

Pembaharuan status akan hilang hingga 24 jam

Bagikan dengan kontak Anda apa yang terjadi sepanjang hari Anda

Kendalikan siapa saja yang dapat melihat pembaharuan Anda di pengaturan Privasi

Mulailah memposting status Anda sekarang. Semoga makin menikmati fitur-fitur WhatsApp ini. Share jika dirasa bermanfaat.

Lengkap, cara mudah menghapus applikasi android yang tidak bisa dihapus secara normal

Pernahkah kamu menginstal applikasi di android, kemudian applikasi itu tidak bisa dihapus? Tenang dulu, jangan keburu di jual HP-nya. Karena di sini saya akan membahas bagaimana cara menghapus applikasi yang tidak bisa dihapus secara normal di android.

applikasi android
via Solopos

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan applikasi Android tidak dapat dihapus secara normal.

1. Administrator Perangkat

Salah satu penyebab applikasi tidak dapat dihapus yaitu karena adanya administrator Perangkat yang aktif untuk applikasi tersebut. Ada banyak applikasi yang biasanya dilengkapi administrator perangkat, seperti antivirus, anti pencurian, dan lain-lain. Hal ini akan mengizinkan Pengelola Perangkat Android untuk mengunci/menghapus applikasi. Jadi applikasi tersebut tidak akan bisa dihapus selama administrator Perangkat ini diaktifkan, terkecuali di set ulang atau kembali ke pengaturan pabrik.

Oleh karena itu jika kamu mendapati applikasi pengguna yang kamu instal tidak bisa dihapus, silahkan masuk menu Pengaturan >> Kemanan >> Administrator Perangkat. Pilih administrator Perangkat applikasi mana yang ingin kamu hapus. Kemudian hilangkan centang pada applikasi tersebut dengan cara memilih administrator itu dan pilih Nonaktifkan. Setelah itu kembali ke Pengaturan Aplikasi, silahkan coba hapus aplikasi yang ingin kamu hapus tadi. Bisa? Jika belum bisa simak penjelasan berikutnya.

2. Masuk ke dalam Applikasi Sistem

Seperti kita ketahui bersama, bahwa applikasi bawaan android kamu memang tidak dapat dihapus. Karena jika dihapus, pada beberapa applikasi akan menyebabkan android kamu tidak stabil. Pertanyaannya apakah bisa applikasi pengguna dijadikan applikasi sistem? Tentu saja bisa. Tetapi hal ini dapat kamu lakukan setelah android kamu telah memiliki hak akses berakar atau sudah diroot.

Pertama yang perlu anda lakukan adalah, mengecek android kamu apakah sudah di root atau belum. Cara ceknya kamu bisa menginstal aplikasi Root Checker. Kalau Android kamu ternyata sudah di root, hal ini adalah suatu yang wajar terjadi. Akan tetapi jika belum, anda tidak perlu risau. Karena kemungkinan Android kamu memang mudah untuk dilakukan rooting.

Saya pernah menangani kasus seperti ini di Android teman saya. Androidnya belum di root tetapi applikasi pengguna dapat masuk pada applikasi sistem lantaran mengset applikasi tersebut menjadi applikasi default. Applikasi itu pun tidak dapat dihapus sekalipun kembali ke pengaturan pabrik. Karena telah menjadi applikasi sistem.

Nah, solusinya silahkan kamu instal applikasi Link2SD atau applikasi System App Remover. Jalankan applikasi tadi dan pilih applikasi yang akan kamu hapus dan pilih Hapus. Apakah berhasil? Kalau belum berhasil dan meminta hak akses root, maka kamu harus mengroot Android kamu terlebih dahulu. Silahkan cari tutorial di Google bagaimana cara root Android yang sesuai dengan tipe Smartphone kamu. Jika sudah ter-root buka kembali applikasi Link2SD atau System App Remover tadi, dan pilih applikasi yang akan kamu hapus. Pilih hapus. Jika ada permintaan izin akses root pilih Izinkan.

Sampai di sini apakah applikasi kamu sudah bisa dihapus? Semoga berhasil dan silahkan share artikel ini jika dirasa bermanfaat. Good Luck!